
Salam kasih untukmu, malaikat tak bersayap yang Tuhan kirim untuk selalu menemani hari-hariku. Lalu, Ma, apa kabar Mama di sana? Sementara aku di sini, aku sangat merindukan hangatnya belaian kasihmu. Selain itu, aku rindu canda dan tawamu, aku rindu semua hal yang Mama berikan untukku.
Ma… aku putri kecilmu yang dulu selalu merengek dengan manja dalam hal apapun itu. Namun kini, aku sudah mulai beranjak dewasa. Putri kecilmu yang dulu ingin selalu di sisimu, kini harus belajar berjuang sendiri karena jauh dari pandanganmu. Meski begitu, setiap langkah yang kuambil selalu teringat pada kasih dan doa-doamu.
Mama. Aku ingin mengatakan bahwa saat ini putri sudah mulai belajar menjadi orang yang kuat walaupun jauh dari dirimu.
Ma…seandainya waktu dapat kuputar kembali aku ingin kembali ke saat-saat di mana aku selalu menjadi bagian paling penting dalam hidupmu di saat dan keadaan apapun. Ma, aku rindu, sangat rindu. Aku rindu caramu menyemangatiku di kala aku jatuh dan merasa tak ada pegangan untuk aku bangkit.
Doa yang Tak Pernah Putus
Walau kehadiranmu sering hanya lewat doa yang lembut dan tulus, namun tetap saja kasihmu terasa begitu nyata—seolah-olah hadir dalam setiap langkahku dan setiap kali aku menatap hari yang baru. Dari sanalah aku merasakan bahwa cinta seorang ibu tak pernah mengenal jarak, karena kasihmu selalu menjadi cahaya yang perlahan menuntunku melewati gelapnya hari-hari.
Dan ketika rasa lelah mulai menghampiri atau saat langkahku terasa ragu, pada saat itulah aku selalu teringat padamu, Ma. Seakan-akan seluruh dunia berhenti sejenak untuk mengingatkan bahwa ada engkau yang diam-diam mendoakanku. Melalui setiap helaan napas dan detak waktu, aku menyadari bahwa doa-doamu adalah pelindung yang tak terlihat.
Doa-doamu, Ma, bagai pelukan tak kasat mata yang setiap saat menenangkan hati, setiap waktu menguatkan jiwa, dan pada akhirnya membuatku kembali berani untuk melangkah, meski dunia terasa berat sekalipun.
Maafku untukmu, Mama
Ma… maaf untuk air mata yang sering menetes dari kelopak mata indahmu, maaf untuk luka hati yang mungkin kugores tanpa sengaja di dalam lubuk hatimu, maaf untuk kata-kata yang sering dengan lancang kulontarkan dari bibir najisku yang tak pantas ini.
Ma….kapan ya aku bisa bermanja lagi layaknya putri kecilmu dulu? Kapan ya Ma, Aku bisa bermanja denganmu?
Andai aku punya sayap aku ingin bertemu mama sekarang, aku ingin memeluk erat tubuhmu yang kini sudah mulai ringkih. Aku harap mama baik-baik ya di sana.
Ma…Malaikat tak bersayapku dan penyemangatku.
Doa yang Menyertai Langkahku
Aku berharap, Mama, selalu mengingatku dalam setiap doa yang Mama panjatkan. Aku yakin, doa-doa itu senantiasa menyertaiku dalam setiap perjalanan hidupku, menjadi cahaya yang menuntunku saat aku hampir menyerah.
Salam kasih dari putri kecilmu
Desriana Abi.






