

Erambu, Sota – Umat Stasi Santa Maria, Paroki Santo Arnoldus Janssen Sota, menyambut Bulan Oktober dengan penuh sukacita. Selain itu, mereka kembali melaksanakan tradisi doa Rosario dari rumah ke rumah sebagai wujud devosi dan kebersamaan. Selanjutnya, Pater Simon, SVD, memimpin perayaan Ekaristi pembukaan Bulan Rosario di Gereja Stasi Santa Maria sebagai awal seluruh rangkaian kegiatan ini.
Baca juga: https://almaputeri22.net/2025/11/16/alma-puteri-menggelar-raker-tahun-2025/
Dalam kotbahnya, Pastor Simon menegaskan bahwa mendaraskan Rosario berarti membuka hati untuk digandeng oleh Bunda Maria masuk semakin dalam ke misteri hidup Kristus. “Ketika kita berdoa Rosario, kita berjalan bersama Maria, membiarkan dia menuntun kita kepada Yesus,” tegasnya.






Baca juga: https://almaputeri22.net/2025/09/28/alma-puteri-hadir-di-keuskupan-jayapura/
Suasana Doa Penuh Kehangatan dan Persaudaraan
Setelah perayaan pembuka, umat kembali ke tiga lingkungan—Santo Agustinus, Santa Maria, dan Santo Mikael—untuk memulai doa Rosario secara bergilir dari rumah ke rumah. Suster Iren, ALMA, dan Suster Getrudis Seuk (Udis), ALMA, dengan penuh semangat mendampingi umat dan menyertai mereka dari satu keluarga ke keluarga lainnya dalam doa.
Doa Rosario setiap malam menghadirkan suasana teduh dan penuh kekeluargaan. Anak-anak aktif belajar mencintai doa, para remaja calon Komuni Pertama menyiapkan hati untuk menyambut Sakramen Ekaristi, sementara para lansia dengan setia memimpin Koronka Kerahiman Ilahi sebelum doa Rosario. Di tengah kesederhanaan kampung Erambu, lantunan Salam Maria terdengar mengalun dari bibir seluruh umat tanpa memandang usia.
Cahaya lilin dari setiap rumah yang dikunjungi menjadi simbol terang Kristus yang hadir melalui doa bersama. Banyak keluarga mengaku merasakan kembali kehangatan iman dan kebersamaan yang sempat memudar karena kesibukan dan kesulitan hidup di wilayah perbatasan.
Doa yang Menghidupkan Harapan
Suster Udis mengajak umat untuk merenungkan peristiwa-peristiwa dalam Rosario sebagai cermin kehidupan sehari-hari. “Peristiwa gembira, sedih, mulia, dan terang adalah bagian dari perjalanan iman kita. Kita belajar melihat hidup dengan kacamata kasih Allah,” ungkapnya.
Sementara itu, Suster Iren menegaskan bahwa kebiasaan berdoa bersama menjadi sumber kekuatan umat. “Dalam kesederhanaan hidup, kita merasakan bahwa Bunda Maria selalu mendampingi dan meneguhkan langkah kita,” tuturnya.
Tradisi doa Rosario dari rumah ke rumah tidak hanya menghidupkan devosi, lebih dari itu, tradisi ini juga menjadi sarana yang semakin mempererat persaudaraan umat. Selain itu, banyak keluarga yang sebelumnya jarang hadir kini mulai kembali terlibat aktif dalam kegiatan gereja, sehingga semangat hidup menggereja umat pun makin terlihat.
Kesaksian Iman yang Menguatkan Komunitas
Kegiatan ini menjadi kesaksian bahwa di tengah keterbatasan, umat Stasi Santa Maria tetap kokoh dalam iman dan pengharapan. Doa Rosario telah menjadi tali pengikat kasih, membawa umat berjalan bersama Bunda Maria menuju Yesus.
Dengan semangat yang terus menyala, umat berharap tradisi ini akan terus diwariskan sebagai kekayaan rohani komunitas. Bersama Bunda Maria, umat percaya bahwa mereka senantiasa berjalan dalam terang kasih Kristus.







