

Malang, 8 September 2025 – Perayaan Ekaristi Kaul Kekal Asosiasi Lembaga Misionaris Awam (ALMA) Puteri tahun 2025 diawali dengan tarian budaya dari Papua. Gerakan penuh semangat dan warna-warni khas Nusantara ini menghadirkan sukacita serta mengajak umat untuk bersyukur sebelum memasuki suasana liturgi yang khidmat.

Ritus Pembuka yang Meriah
Sesudah tarian pembuka, para misdinar, lektor, imam, dan calon anggota kaul kekal memasuki kapel dalam perarakan meriah sambil mengumandangkan nyanyian pembuka. Seluruh umat menyambut dengan doa, lalu bersama imam memulai ibadat dengan tanda salib, doa tobat, madah kemuliaan, dan doa pembuka. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh pembina rohani ALMA, Rm. Benediktus Adi Saptowidodo, CM, dan dimeriahkan oleh kurang lebih 20 imam konselebran. Dengan demikian, suasana doa semakin terasa mendalam dan mempersiapkan hati semua yang hadir.




Sabda yang Menguatkan Panggilan
Liturgi Sabda menguatkan iman para calon kaul kekal. Lektor membacakan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (8:28-30) yang menegaskan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan orang yang mengasihi-Nya. Setelah itu, imam mewartakan Injil Matius (1:1-16.18-23) yang menyingkapkan rencana keselamatan Allah melalui Santa Maria, yang kelahirannya dirayakan pada hari itu. Dalam homilinya, Romo Yulianus Astanto Adi, CM selaku pembina rohani ALMA mengajak umat bersyukur atas rahmat panggilan hidup bakti yang Tuhan percayakan kepada Gereja melalui ALMA Puteri serta mengingatkan para yubilaris untuk tetap setia pada pesan Pendiri. Pada kesempatan itu, Romo Janssen menekankan kembali lima pilar kehidupan ALMA, yaitu mendengarkan sabda Tuhan setiap hari, merayakan Ekaristi, membentuk diri terus-menerus, menjalin wawancara komunitas, dan setia pada panggilan pelayanan. Dengan pilar-pilar tersebut, beliau meneguhkan para suster agar hidup bakti mereka semakin berakar kuat dalam Kristus dan berbuah bagi sesama.




Pengikraran Kaul Kekal
Sesudah homili, Pemimpin Umum ALMA Puteri memanggil para calon kaul kekal satu per satu. Dengan penuh keyakinan, mereka berdiri dan menjawab lantang, “Ya, saya hadir.” Setelah itu, imam mengajukan pertanyaan tentang kesanggupan mereka untuk berkaul kekal. Para suster menanggapi dengan jawaban “Ya, saya mau” sebagai tanda penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus.

Litani Para Kudus dan Pemberkatan
Umat kemudian melantunkan Litani Para Kudus, memohon doa syafaat bagi para suster. Imam memberkati mereka dan menyerahkan cincin sebagai tanda kesetiaan. Satu per satu, para suster mengucapkan janji perkawinan rohani dengan Kristus, menyerahkan seluruh hidup untuk dipersatukan dengan-Nya.

Janji Hidup Bakti
Dengan hati yang penuh haru, para suster mengikrarkan kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan, sekaligus meneguhkan diri sebagai misionaris awam dalam ALMA. Selanjutnya, imam meneguhkan ikrar tersebut dengan doa pengudusan. Melalui doa itu, beliau memohon agar para suster tetap setia sampai akhir dan akhirnya layak menerima mahkota kekekalan. Setelah doa pengudusan, imam menyerahkan cincin kepada para suster yang berkaul kekal sebagai tanda kesetiaan mereka kepada Kristus. Dengan menerima cincin ini, para suster meneguhkan janji untuk senantiasa bersatu dengan Kristus, Sang Mempelai Sejati, dalam pelayanan dan kesetiaan seumur hidup.








Permohonan Pengutusan oleh Pembina Rohani
Pembina rohani membacakan Permohonan Pengutusan yang menegaskan bahwa para suster menyerahkan hidup mereka untuk menguduskan dan menyuburkan Gereja. Beliau menggambarkan Kristus sebagai mempelai yang mencintai Gereja, serta menegaskan panggilan para suster untuk hidup sederhana bersama orang miskin, cacat, dan tersisih. Dengan penegasan itu, beliau meneguhkan kembali semangat St. Vinsensius: “Orang miskin adalah warisanmu.”
Pengutusan oleh Imam
Imam menyampaikan pengutusan resmi yang menandai awal keterlibatan para suster dalam karya Gereja. Beliau mengutus mereka untuk mendampingi imam dalam pelayanan, mengajar, membimbing umat, menolong yang menderita, dan mewujudkan kasih Allah bagi mereka yang lemah serta terpinggirkan. Imam menekankan bahwa tugas ini bukan beban, melainkan jalan yang menuntun para suster pada kebebasan sejati dalam Kristus.
Makna Simbolis Pengutusan
Secara simbolis, bagian ini menutup upacara pengikraran kaul kekal dengan sangat indah. Para suster diingatkan bahwa kaul yang mereka ikrarkan bukan hanya janji pribadi kepada Tuhan, tetapi juga mandat untuk melayani Gereja dan umat, terutama kaum kecil dan miskin. Mereka berangkat sebagai “peziarah-peziarah iman”, berjalan bersama umat Allah menuju perjumpaan abadi dengan Kristus, Sang Mempelai Sejati.
Liturgi Ekaristi dan Penyerahan kepada Bunda Maria
Setelah pengutusan, umat melanjutkan perayaan dengan Liturgi Ekaristi. Dalam doa persembahan, imam memohon agar Tuhan menuntun langkah para suster dalam menjalani hidup bakti. Umat semakin menyemarakkan persembahan dengan tarian persembahan dari Kalimantan yang mereka bawakan penuh syukur dan sukacita. Sesudah menerima komuni, para anggota yang baru mengikrarkan kaul kekal berdiri di hadapan arca Bunda Maria, berdoa, dan mempersembahkan diri. Pada momen penuh haru itu, mereka memohon bimbingan serta meneladani kesetiaan Bunda Maria agar tetap teguh dalam panggilan mereka.











Ritus Penutup Penuh Syukur
Imam menutup perayaan dengan doa berkat, sambutan, dan pengumuman. Para suster lalu berarak keluar bersama umat sambil mengumandangkan nyanyian syukur. Umat, keluarga, dan sahabat pun bergembira menyaksikan 21 suster ALMA mengikatkan diri seutuhnya kepada Kristus dan Gereja. Acara berlanjut dengan ramah tamah di Aula Agape yang penuh sukacita dan kehangatan persaudaraan.








1 thought on “Perayaan Ekaristi Kaul Kekal ALMA PUTERI”