

Malang, 19 Maret 2026 — Komunitas PSPP ALMA Puteri menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Mahasiswa Pastoral bagi mahasiswa tingkat akhir pada Kamis, 19 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Maria Ratu Segala Hati, Seminari Montfort Pondok Kebijaksanaan. Peserta terdiri dari Wisma Egbert, Wisma Lazarus Lantai 3 Unit 2, serta Wisma Lazarus Lantai 4 Unit 2.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan Pelayanan Pastoral tahun 2026 yang bertujuan mempersiapkan mahasiswa agar semakin matang secara pribadi, emosional, dan spiritual sebelum terjun dalam pelayanan di tengah umat.
Baca juga: https://almaputeri22.net/2026/03/17/kasih-yang-membarui-hidup/
Sambutan dan Tujuan Kegiatan
Dalam sambutannya, Sr. Klemensia Nini selaku Ibu Pelayan Komunitas PSPP menegaskan bahwa pembinaan ini menjadi wujud komitmen komunitas untuk membentuk pelayan yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga dewasa secara emosi dan spiritual. Pembekalan ini juga selaras dengan karisma ALMA yang mengarahkan pelayanan kepada kaum miskin, penyandang disabilitas, dan mereka yang terlantar.


Mengolah Emosi sebagai Bagian dari Panggilan Pelayanan
Mengusung tema “Mengolah Emosi dan Pergumulan Hidup yang Berdampak pada Bertumbuh dalam Iman, Karakter, dan Pelayanan,” kegiatan ini menghadirkan narasumber Rm. Apolinaris Dari Bani, SMM. Dalam suasana yang hangat dan komunikatif, beliau mengajak peserta menyadari bahwa menjadi pelayan pastoral berarti berani berproses dalam pergumulan hidup, termasuk dalam mengelola emosi.
Romo Anar mengajak peserta mengenali berbagai gejolak emosi sepanjang perjalanan hidup, seperti kegembiraan, kepuasan, kemarahan, kesedihan, dan kecemasan, sebagai dinamika manusiawi yang perlu mereka kelola dengan bijaksana.








Emosi dalam Perspektif Psikologis dan Iman
Dalam pemaparannya, Romo Apolinaris Dari Bani, SMM, yang akrab disapa Romo Anar, menjelaskan bahwa emosi merupakan perpaduan perasaan, perubahan fisiologis.
Ia membedakan emosi menjadi dua kelompok besar, yaitu emosi positif meliputi ketenangan, kebahagiaan, dan sukacita, serta emosi negatif mencakup kemarahan.
“Emosi bukan musuh yang harus kita tolak, tetapi anugerah yang perlu kita olah agar semakin mendewasakan iman dan kemanusiaan kita,” ungkap Romo Anar.


Romo Anar menegaskan bahwa seseorang tidak selalu perlu memandang emosi negatif sebagai hal yang buruk. Ketika seseorang mengolahnya dengan benar, emosi tersebut justru membantu dirinya semakin mengenal diri dan bertumbuh dalam kedewasaan.
Belajar dari Yesus dan Bunda Maria
Pendekatan Kitab Suci menjadi bagian penting dalam pembekalan ini dan memperkaya pemahaman peserta tentang kehidupan iman mereka secara mendalam.
Romo Anar mengajak peserta merenungkan bagaimana Yesus Kristus dan Bunda Maria mengalami serta mengekspresikan emosi dalam perjalanan hidup mereka sehari-hari.
Maria merenungkan segala perkara dalam hatinya, sedangkan Yesus menunjukkan emosi-Nya secara manusiawi: Ia bersukacita, berbelaskasih, dan menangis menghadapi penderitaan manusia.
Melalui teladan tersebut, Romo Anar mengajak peserta memahami bahwa emosi bukanlah tanda kelemahan, melainkan kemanusiaan yang membantu memahami kehendak Allah.
Hati sebagai Tempat Pengolahan Emosi
Rm. Anar menekankan bahwa hati menjadi pusat pengambilan keputusan sekaligus penyaring berbagai dorongan batin manusia dalam kehidupan sehari-hari para peserta.
Melalui doa, keheningan, dan refleksi, beliau mengajak peserta menata emosi agar tidak dikuasai perasaan sesaat, melainkan mengarahkannya pada kasih kebaikan.
Beliau juga menjelaskan bahwa sikap keramahan, kelemahlembutan, dan kesediaan menghargai sesama menjadi jalan konkret untuk mengatasi emosi negatif. Ia menegaskan bahwa kasih Allah menjadi dasar utama dalam menjaga keseimbangan batin, karena kasih merupakan emosi ilahi yang paling mendalam.
Sesi Refleksi dan Pertumbuhan Pribadi
Pada sesi kedua, peserta berbagi pengalaman tentang kelebihan dan kekurangan diri dalam suasana yang reflektif dan saling mendukung secara jujur.
Melalui refleksi bersama, mereka menemukan cara konkret mengolah kelemahan pribadi agar tidak menghambat pelayanan, tetapi justru menumbuhkan kedewasaan iman mereka.”
Romo Anar menekankan dalam sesi ini bahwa kebesaran seorang pelayan tidak terletak pada kekuasaan, tetapi pada kerelaan melayani dengan sesama. Dari kerelaan lahirlah pengorbanan, dan dari pengorbanan tumbuh kasih yang nyata dalam tindakan sehari-hari.
Harapan bagi Para Mahasiswa Pastoral
Melalui pembekalan ini, komunitas PSPP mempersiapkan mahasiswa agar semakin siap menghadapi dinamika kehidupan pastoral dengan hati yang matang, empatik, dan penuh belas kasih.
Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga meneguhkan panggilan peserta untuk melayani dengan iman yang hidup dan karakter kuat.
Komunitas PSPP menyampaikan terima kasih kepada Romo Anar, para pembina asrama, dan seluruh peserta yang mengikuti kegiatan ini dengan kesungguhan dan keterbukaan.












